laman

Tausiyah

1 Oktober 2016





MEMBESARKAN HATI


Nabi Muhammad SAW sangat pandai membesarkan hati dan menggembiarakan para sahabatnya sehingga orang yang ada di sekitarnya merasa bahagia dan nyaman. Orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki status sosial atau dari kelas rendah setelah bersama Rasulullah merasa berharga dan dimuliakan. Orang-orang dari kalangan status sosial tinggi tidak malu dan tidak sombong ketika bersama Rasulullah.
Banyak cara Rasulullah membesarkan hati orang lain. Ketika ada orang dipandang rendah oleh para sahabat, karena orang itu giat bekerja namun tidak ikut berjihad membela Islam justru Rasulullah menyebutnya sebagai mujahid dan ahli surga.
Dikisahkan, dalam suatu perjalanan Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu yang tangannya melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman.
Lalu Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?” Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Rasulullah langsung menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda dengan memberi kabar gembira, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada” (inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya). Tentu saja si tukang batu sangat senang dan menambah semangat bekerja mendengar sabda Rasulullah tersebut.
            Membesarkan hati pada dasarnya adalah membahagiakan orang lain. Orang yang memiliki kelemahan atau kekurangan baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi biasanya menjadi berkecil hati, canggung, minder dalam bergaul. Agar orang seperti ini tetap normal dan tumbuh kepercayaan diri harus dibesarkan dan digembirakan hatinya sehingga menjadi bersemangat menjalani hidup.
Adapun cara membuat gembira bisa dengan tindakan yang bermacam-macam. Yang terpenting adalah selama tidak melanggar aturan syara’. Bisa dengan perkataan yang menyenangkan, bisa dengan sikap rendah hati, tidak merasa yang paling mulia sendiri, menghormati hak-hak orang lain dan sebagainya. Hakikatnya membesarkan dan menggembirkan orang lain itu dengan banyak memberi bukan meminta atau menerima.
Banyak orang yang merasa hidupnya terasa lebih bahagia pada saat ia mampu memberi. Karena itu setiap muslim diajarkan menjadi pribadi-pribadi altruistic, yaitu mereka yang selalu mensyukuri hidupnya dengan cara berbagi kebahagiaan pada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat orang yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.
Dalam memberi sesungguhnya seseorang akan menerima. Bukankah seseorang dikatakan berilmu hanya ketika dia mau berbagi ilmunya pada orang lain? Bukankah dikatakan dermawan dan baik hati hanya jika seseorang senang menolong orang lain? Dalam tindakan memberi dan melayani itulah nilai dan predikat kebajikan dan amal saleh baru akan muncul.
Terlebih memberi kepada orang-orang yang memang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, rasulullah bersabda, “Sesama mulim itu bersaudara, oleh akrena itu jangan saling menganiaya dan jangan mendiamkannya. Barang siapa yang memperhatikan kepentingan orang lain, Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di akhirat kelak (HR. Bukhari dan Muslim).
Mutohharun  Jinan, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Modal Sosial

Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI

Salah satu sifat yang melekat pada diri Nabi Muhammad sejak sebelum diangkat menjadi Rasul, dan diakui secara luas oleh masyarakat Arab pada zamannya adalah sifat terpercaya, sehingga ia mendapat gelar al-amin.
Al-amin merupakan sifat yang didalamnya terhimpun sejumlah tabiat, antara lain jujur, ikhlas, santun, cerdas, kooperatif, dan sifat-sifat baik lainnya.
Husein Haikal (dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad: 60) menyebutkan, orang-orang terdekat dan warga masyarakat di Mekah telah menaruh kepercayaan yang amat besar dalam urusan kerumahtanggaan dan perdagangan kepada Muhammad, meskipun beliau baru berusia 12 tahun.
Sebutan Al-amin (orang yang terpercaya) yang disematkan kepada Muhammad adalah modal sosial yang amat penting dan menjadi bekal dakwahnya di kemudian hari tatkala beliau menjadi seorang Rasulullah. Banyak orang tertarik menjadi pengikutnya pertama-tama karena melihat keterpercayaannya dari pada isi ajaran yang disampaikan. Bahkan, di Madinah Nabi Muhammad dipercaya oleh suku-suku bila diantara mereka terjadi perselisihan.
Dalam narasi modern, predikat al-amin itu norma pokok sebagai modal sosial (social capital) yang sangat penting dalam proses komunikasi dan interaksi serta menjalin kemitraan di masyarakat. Modal sosial didefinisikan sebagai serangkaian nilai dan norma yang dimiliki baik secara individu atau bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjadinya kerjasama diantara mereka (Francis Fukuyama, 2002).
Kepercayaan sebagai modal sosial dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas ataupun tindakan bersama yang produktif dan mengandung kemaslahatan.
Bisa dibayangkan betapa rumitnya hidup ini jika dalam insteraksi sehari-hari tidak rasa saling percaya atau saling menaruh kepercayaan satu dengan yang lain.
Seorang penjual makan di warung tentu percaya, bahwa pelanggannya akan membayar sesuai jumlah makanan yang dimakan. Pemilik warung tidak akan mengintai dan curiga jangan-jangan pelanggannya menipu. Begitu juga sebaliknya, konsumen percaya bahwa menu yang disediakan adalah menu yang sehat dan tidak mengandung bahaya sehingga menyantap makanan degan nikmat.
Kepercayaan juga berlaku dalam berbagai interaksi lain antara pimpinan dan karyawan, antara nasabah dan pihak bank, antara investor dan manajer perusahaan, antara warga dengan tetangganya, antara pejabat pemerintah dengan rakyatnya, dan seterusnya.  
Masyarakat atau bangsa yang tidak memiliki sifat dan sikap saling percaya (trust) satu dengan yang lainnya akan sulit mengembangkan jaringan ekonomi, menata kohesi sosial, dan birokrasi politik yang sehat, efisien, dan tahan lama karena tidak ada kekuatan yang menghubungkan dan menyangganya.
Sayangnya, modal sosial yang satu ini tidak menjadi nilai utama dalam kehidupan bernegara. Setiap hari kita disuguhi berita dan pertunjukan mengenai betapa elite bangsa ini nyaris kehilangan sifat dan sikap untuk saling percaya dan bisa dipercaya.
 



12 Desember 2015


Menyebarkan salam

Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI

Kemuliaan dan keindahan ajaran Islam tampak salah satunya dalam ajaran agar kaum muslim menyebarkan salam atau menyebarkan keslematan. Setiap hari kaum muslim mengucapkan kalimat yang mengadung doa untuk diri dan orang mendapatkan keselamatan atau kedamaian, rahmat, dan barakah Allah.
Sadar atau tidak sekurang-kurangnya sepuluh kali kau muslim menebar salam, yaitu ketika kaum muslim mengakhiri ibadah salat wajib yang dikerjakan lima waktu dalam sehari semalam.
Tebaran salam tentu bisa lebih banyak lagi, karena yang dituntunkan oleh Rasulullah mengucap salam tidak hanya ketika salat saja, tetapiketika sesama muslim bertemu disunnahkan menyampaikan ucapan salam, assalamu alaikum.
Dalam satu kesempatan Rasulullah bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian pada suatu perkara apabila kalian melakukannya kalian akan berkasih sayang? Tebarkan salam” (HR. Tirmidzi). Salam artinya damai atau selamat. Menyebarkan salam berarti menyebarkan perdamaian atau keselamatan bagi diri dan orang lain.
Sedikitnya ada tiga tingkatan menyebarkan salam atau kedamaian yang dapat dilakukan seseorang, yaitu tingkat ucapan, sikap, dan tindakan.
Pertama menyebarkan salam dengan ucapan. Dalam pergaulan sehari-hari sangat penting untuk saling menyampaikan salam damai dengan berbagai ungkapan. Tuntunan yang diajarkan adalah setiap pertemuan dan perpisahan hendaknya disertai ucapan saling mendoakan agar terjaga dalam keselamatan dan kedamaian. Namun, ada berapa banyak orang yang menebar salam itu di landasi dengan tulus yang keluar dari hati dan pikiran yang penuh damai.
Ucapan yang sekedar basa basi tidak akan mengalirkan vibrasi damai jika tidak diikuti dengan rasa dan energi damai. Jika ini yang terjadi, sekalipun setiap hari seseorang mengucapkan salam, yang menerima juga tak akan merasakan getaran damai yang keluar dari lisan karena hatinya memang kosong dari energi damai.
Tingkatan kedua menyebar salam adalah dengan menunjukkan sikapatau rasa senang kedamaian dalam tata hidup sehari. Sikap atau perasaan senang mencegah seseorang nap menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Sikap ini juga dapat menhindarkan seseorang tidak melibatkan diri dalam tindakan yang dapat menyebabkan rusaknya keharmonisan bersama.
Hanya saja, sikap dan perasaan senang pada perdamaian ini sifatnya masih pasif saja, alias  belum mau melakukan tindakan nyata dan terlibat aktif dalam penciptaan hidup yang damai di lingkungannya. Pada tingkatan ini yang diutamakan adalah diri sendiri dan merasa cukup asalkan sudah mampu mengendalikan diri dari tindakan yang merusak lingkungannya.
Tingkatan ketiga menyebarkan salam belum cukup hanya dengan kata-kata dan perasaan senang saja, lebih dari itu, dengan perbuatan atau tindakan nyata. Tingkatan ini ditunjukkan dengan secara aktif terlibat dalam penciptaan perdamaian melalui berbagai modus dan strategi.
Keterlibatan aktif dapat dilakukan dengan menggalang potensi untuk terus menjaga perdamaian, mengedepankan cara-cara dialogis dan persuasif dalam menyelesaikan berbagai  persoalan. Dalam waktu yang bersamaan juga menghadang segala perbuatan yang dapat merusak tata hidupini berantakan.
Islam yang mengajarkan salam dan kasih sayang tidak berarti lemah, karena pada saat-saat tertentu Islam juga mengajarkan sikap tegas. Ibarat seorang dokter yang melakukan operasi bedah terhadap pasien tidak berarti dia bertindak kejam, melainkan bersikap tegas karena didorong kasih sayang untuk penyembuhan.Pada dasarnya Islam mengajarkan persaudaraan, kasih sayang dan perdamaian terhadap sesama saudara sebagai-sama hamba Allah, namun mesti bersikap tegas pada siapapun yang merusak ketenteraman sosial dan martabat manusia.


14 November 2015

Memenuhi Janji


Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI
Hampir tidak ada orang yang tidak pernah berjanji, baik pada diri sendiri maupun janji kepada orang lain, baik janji besar maupun janji kecil. Janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu (seperti memberi, membantu, bertemu dan sebagainya). Janji dilakukan oleh siapa saja, orang biasa, pejabat, pemimpin, orang kaya, orang miskin, anak-anak, dan orang dewasa.
Hidup manusia memang tidak bisa dilepaskan dari ikatan perjanjian, terlebih menyangkut hubungan antara manusia satu dengan yang lain. Perkawinan pada dasarnya adalah ikatan perjanjian suami dan istri, jual beli adalah ikatan perjanjian penjual dan pembeli terkait hak kepemilikan barang, bekerja di perusahaan didahului dengan perjanjian pekerja dan perusahaan, menjadi pemimpin pada hakikatnya adalah perjanjian dengan rakyat untuk menyejahterakan mereka.
Perjanjian terjadi karena orang tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu secara tunai dan langsung dalam satu waktu. Kewajiban, tugas, dan tanggung jawab ada yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang lama dan dalam waktu yang ditentukan kemudian. Untuk mengikat supaya kewajiban dan tugas itu dapat dilaksanakan maka diperlukan janji.
Janji juga bisa terjadi karena seseorang berhasrat ingin mencapai sesuatu. Untuk memuluskan hasratnya perlu menjanjikan imbalan berupa pemberian atau program yang menguntungkan. Seperti yang terjadi pada bulan lalu rakyat Indonesia menyelenggarakan hajatan besar, yaitu Pilkada serentak. Syukurlah Pilkada berlangsung relatif aman, lancar, tertib, dan damai. Suasana menjelang pencoblosan berlangsung, pada saat kampanye, banyak janji yang ditebar oleh para calon pemimpin kepada rakyat pemilih.
Tebaran beragam janji, jika terpilih jadi kepala daerah berjanji akan memberantas korupsi, membuat program yang berpihak kepada rakyat, dan janji-janji kebijakan lainnya untuk kemakmuran dan kemajuan masyarakat yang akan dipimpinnya. Kini saatnya rakyat untuk mengingatkan janji-janji para pemimpinnya yang terpilih. Begitu juga para pemimpin terpilih bersiap untuk menunaikan janja-janjinya.
Janji bagaikan hutang, demikian banyak orang mengatakan. Memang benar begitulah adanya. Orang yang akan berhutang cenderung mengabaikan keberatan-keberatan bagaimana akan mengembalikannya. Berhutang terasa lebih ringan dari pada melunasinya. Sebagaimana orang yang akan berhutang, janji terasa ringan diucapkan, cenderung lupa memperhatikan bagaimana nanti cara memenuhinya. 
Al-Quran memerintahkan agar orang-orang beriman menepati janji. “Hai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janji itu” (QS. Al-Maidah/5: 1). Untuk membuktikan keimanannya seseorang hendaklah menepati janji-janjinya. Baik janji kepada Allah dan RasulNya, janji kepada sesama manusia, janji kepada diri sendiri, bahkan semua janji yang tidak mengandung pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram.
Perintah ayat tersebut sangat menekankan perlunya memenuhi janji secara sempurna, bahkan bila perlu dipenuhi secara lebih dari ucapan janjinya. Menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. Bahkan, saking pentingnya, menepati janji tidak terbatas hanya sesama kaum muslimin, terhadap kaum non-muslim pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi Muhammad SAW dan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin, tetap beliau jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Begitulah antara lain pesan firman Allah (QS. At-Taubah/8: 4).
Sebaliknya, mengingkari janji sangat dikecam karena harmoni hubungan sosial akan terancam, rasa aman akan hilang, pertikaian akan sulit dihindari jika janji-janji tidak dipenuhi. Karena itu, dalam hubungan sesama manusia, hukuman dan konskuensi ingkar janji ditetapkan menurut kadar perjanjiannya. Antara janji besar dan janji kecil tidak terlalu berbeda. Saat tidak ditepati kedua-duanya berpotensi menyebabkan suatu kerugian yang besar.
Rasulullah Muhammad SAW juga memperingatkan akan bahaya batin dari ingkar janji sebagai kanker spiritual yang dapat menggerogoti iman seseorang. Disebutkan dalam hadisnya bahwa “diantara tanda-tanda kemunafikan seseorang adalah apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan jika dipercaya menghianati” (HR. Muslim). Kemunafikan pada hakikatnya adalah cikal bakal penyimpangan terhadap kebenaran, dan hal ini pula menjadi pangkal kehinaan.
Menepati janji bagian dari kebajikan yang memelihara kemuliaan. Menepati janji adalah suatu kebijaksanaan yang mutlak harus dilakukan, dan tidak mengumbar janji adalah salah satu bentuk kebijaksanaan lainnya. Manusia menjadi mulia saat menepati satu janji, bukan saat mengucapkan seribu janji.



21 November 2015


Dakwah dan Media Sosial


Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI

Hidup di masyarakat berbasis teknologi informasi seperti sekarang ini orang begitu mudah menebar kebajikan, namun juga terbuka peluang menebar keburukan.
Tidak perlu biaya mahal dan mengeluarkan banyak tenaga seseorang bisa mengajak saudara, kerabat, teman, dan kolega untuk selalu berbuat kebaikan. Dengan sedikit pulsa yang masih tersisa di telepon seluler, satu untaian kalimat mutiara yang isnpiratif atau terjemahan ayat Alquran yang memuat seruang kebajikan bisa tersebar ke ratusan teman.
Banyaknya pilihan media sosial seperti web, youtube, blog, facebook, BBM, dan WatsApp memudahkan sekelompok orang, baik yang berdekatan maupun yang berjauhan, berjamaah dalam  satu goup. Dalam grup yang sudah terbentuk setiap anggota bisa saling bersilaturrahim, berbagi kabar kesuksesan, saling menasehati, dan lain-lain. Cukup  dengan menuliskan atau update status sekali saja sudah tersebar dan dapat dibaca oleh banyak orang pada saat itu juga.
Begitulah teknologi informasi menfasilitasi setiap orang untuk memaksimalkan potensinya memberi manfaat kepada orang lain. Namun sayangnya, peluang dan kemudahan itu jarang dimanfaatkan. Malahan, sebaliknya tidak sedikit orang yang justru menebar keburukan, menfitnah, mencaci maki, dan merendahkan martabat orang lain melalui media sosial.
Media sosial yang mempunyai karakter berjangkau luas, bebas, cepat, akseleratif, tanpa gatekeeper, dan interaktif sering dijadikan arena untuk menghasut, propaganda, menebar kebencian, dan tindakan buruk lainnya. Pendek kata, orang begitu bebas melakukan kebaikan dan keburukan melalui media sosial.
Dalam situasi yang sebas bebas berkicau itulah diperlukan sifat integritas dan amanah. Integritas merupakan sikap yang selalu menjaga kesesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi. Sedangkan amanah diperlukan untuk mendidik masyarakat pengguna (user) bertanggung jawab atas segala ungkapan isi hati dan pikirannya di hadapan publik.
Pada hakekatnya manusia diberi kuasa oleh Allah untuk memilih dan melakukan perbuatan yang dinginkan dengan catatan sanggup menanggung segala risiko, termasuk risiko di akherat kelak. Maknanya adalah, kebebasan dan tanggung jawab ibarat dua sisi pada satu koin, keduanya harus saling beriringan.
Setiap orang harus terbiasa dan dididik untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang ditulis dan dibagikan kepada khalayak melalui media sosialnya. Setiap user dituntut untuk sadar betul atas isi dan dampak yang muncul dari pernyataan yang dipublikasikan. Bila ternyata pernyataannya membuat orang lain tersudut, user harus siap memberikan penjelasan dan mempertanggung jawabkan. 
Kesan yang tampak saat ini adalah dengan media sosial yang ada setiap orang sangat termanjakan, leluasa berekspresi, bebas untuk menumpahkan segala isi hati. Namun tidak diimbangi dengan semangat responsbilitas yang memadai di depan publik.
Terlebih, di kalangan remaja dan anak-anak, mereka sudah sangat familiar dengan sarana teknologi informasi dan media sosial, namun belum banyak tahu tentang pertanggung jawaban. Bukankah dalam QS. Al-Isra/17: 36, Allah akan menanyakan atas segala perbuatan yang dilakukan oleh mata, telinga, hati dan pikiran kita?




17 Oktober 2015

Dampak Media Sosial


Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI
Pada dasarwarsa yang lalu banyak pengamat menyatakan optimismenya tentang perkembangan Islam di Indonesia, menuju ke arah pembentukan paradigma baru yang lebih menjanjikan, yang ditandai dengan dinamisnya wacana teologi, menguatnya gairah Islam secara kultural, dan kemampuan membangun toleransi.
Namun, tidak banyak yang menulis tentang bagaimana dinamika terus bergulir di tengah percepatan teknologi informasi berbasis media sosial dan bagaimana menciptakan atmosfer yang tepat merespons gairah keagamaan itu agar tetap bergerak dalam bingkai keragaman dan keadaban.
Media sosial membuka peluang lebar untuk memasarkan fatwa, pendapat, hasil ijtihad, dan tafsir 
 keagamaan. Laju masyarakat muslim kontemporer begitu terbuka dengan ragam produk keagamaan yang terpampang dan siap dikonsumsi oleh khalayak.
Ibarat pasar, sirkulasi produk keberagamaan umat Islam tidak lagi sebatas toko kelontong dengan barang dagangan dan layanan yang terbatas, tetapi seperti hypermarket dimana orang secara mandiri dapat dengan bebas memilih barang yang diperlukan. Dalam konteks manifestasi keagamaan, orang bebas memilih fatwa, pendapat, taushiyah yang sesuai dengan pilihan dan kebutuhannya masing-masing.
Bahkan, diseminasi sumber-sumber pengetahuan Islam yang memungkinkan interpretasi baru terhadap pesan-pesan keagaman berkembang lebih cepat dari yang diduga. Boleh jadi, interpretasi baru itu akan berbeda dengan apa yang sudah ada sebelumnya. Progresifitas dan keterbukaan media sosial telah mendorong percepatan proses ”peremajaan ulama”.
Muncul apa yang disebut sebagai ”ulama muda” yang lebih progresif ketika menyikapi persoalan-persoalan baru yang muncul di masyarakat sebagai konskuensi dari teknologi komunikasi dan informasi. Ulama muda memiliki akses yang jauh dan luas dalam penjelajahan informasi dan sumber-sumber kajian Islam baik klasik maupun kontemporer.
Selanjutnya, keniscayaan yang mustahil dihindari di tengah kuatnya peran media sosial adalah semakin beragamnya fatwa-fatwa keagamaan tanpa batas-batas yang jelas. Perbedaan fatwa keagamaan antara satu organisasi dengan organisasi lain, antara ulama satu dengan ulama lain bisa berbeda. Bahkan, dalam satu lembaga keagamaan bisa terjadi penentangan otoritas pusat dan daerah. Garis otoritas dari pusat ke daerah tidak lagi lurus, sehingga terjadi perbedaan fatwa antara pusat dan daerah.
Yang juga harus mendapat perhatian dalam perkembangan kehidupan keagamaan berbasis media sosial adalah lemahnya kontrol terhadap user yang yang haus  fatwa atau pahama keagamaan. User cenderung memilih fatwa yang sesuai dengan keinginannya agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Hal ini sangat membuka peluang sikap pragmatis dan instan, serta tidak mendidik user berdialog secara timbal balik atas tafsir keagamaan yang beragam.
Akibatnya, user tidak akrab dengan perbedaan tafsir keagamaan yang ada di kalangan ulama. Kondisi ini akan semakin rentan tatkala user mendapat sentuhan mentor yang berideologi radikal dan mewajibkan monoloyalitas pada satu tafsir. Padahal, dalam ruang dimana arus media sosial sangat deras segenap manifestasi, fatwa, simbol, doktrin, opini, dan gerak langkah atas nama agama harus siap untuk diperiksa dengan teliti dan dipertaruhkan secara kompetitif dan terbuka.




19 September 2015


Dakwah Sepanjang Hayat


Mutohharun Jinan, 
dosen Prodi PAI

Secara bahasa, dakwah berarti panggilan, seruan atau ajakan. Dakwah sering dimaknai sebagai ajakan atau dorongan untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dakwah juga diartikan sebagai upaya merubah dari kondisi yang tidak baik menjadi baik, atau merubah dari kondisi masyarakat yang baik menjadi yang lebih baik secara sadar dan terencana.
Dengan pengertian itu, dakwah merupakan aktivitas multidimensional dan multiaspek. Dakwah mencakup upaya merubah sikap hidup malas, boros, bodoh dan sikap negatif lainnya menjadi sikap hidup yang mengarahkan manusia menjadi mulia. Dakwah juga merubah tata kehidupan sosial zalim dan menindas menjadi tata hidup yang adil dan menyejahterakan.
Dengan demikian dakwah adalah aktivitas yang bersifat terus-menerus, tidak ada batas awaktu dan tempat, aktivitas sepanjang hayat manusia. Buah dari kegiatan dakwah tidak bisa dilihat dalam waktu singkat, bisa jadi hasilnya akan dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Pada dasarnya tidak ada aktivitas dakwah yang sia-sia.
Setiap aktivitas dakwah ada banyak aspek yang terlibat, terlebih jika membaca kisah-kisah Rasulullah Muhammad dan kisah-kisah Nabi dalam Al-Quran yang sebagian umat menolak dakwahnya, tetapi bukan berarti para rasul itu gagal.
Menurut Muhammad A. Khalafullah (2005), setiap gerakan dakwah akan berhadapan langsung dengan salah satu dari dua tipologi umat. Pertama kelompok orang atau umat kehilangan jangkar spiritual, sehingga mereka sulit untuk maju atau kembali keadaan yang lebih baik. Mereka terlanjur terjerat oleh kebiasaan-kebiasaan, budaya, dan tradisi lama yang telah berurat berakar (QS. Yasin/36: 6).
Kedua, kelompok orang atau umat yang jiwanya memang siap menerima dakwah dan berkemauan menjadi lebih baik. Mereka sangat senang dan bahkan berharap agar ada orang yang lebih berpengetahuan membimbing ke jalan yang benar (QS. Yasin/36: 11).
Jadi, kegiatan tablig atau dakwah juga dipengaruhi oleh kondisi masyarakat atau orang yang diajak. Masyarakat tipologi pertama cenderung bereaksi menolak, apatis, dan bahkan memusuhi ajakan dakwah.
Terhadap kelempok ini Allah telah menggariskan bahwa tugas dai hanya menyampaikan, terlepas apakah orang dapat hidayah atau tidak dari apa yang disampaikan itu bukan urusan dai, hidayah semata-mata atas kehendak Allah. Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau mendapat petunjuk.” (QS. Al-Qashash/28: 56).
Ayat tersebut (QS. Al-Qashash/28: 56) bukan isyarat untuk berdakwah secara asal-asalan, seadanya, dan tanpa perencanaan. Dalam waktu yang sama juga tidak boleh berpatah arang karena kesulitan yang dihadapi. Para dai harus fokus pada semangat, strategi, dan metode yang terus diperbarui agar pesan-pesan kebaikan dan kebenaran mudah diterima.
Dakwah dengan lisan yang masih mendominasi dalam kegiatan dakwah Islam perlu memilih kata-kata guna memperlihatkan dakwah yang lebih bijak, meminimalisir madharat, dan menggembirakan. Dakwah dilakukan dengan baik (da’wah bil ihsan), dengan memilih cara terbaik dan terorganisir sehingga dampak destruktif dapat terhindarkan.
Al-Quran menegaskan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl/16: 125).



17 Desember 2015


PERAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM MEMASUKKAN ZIS SEBAGAI SALAH SATU KEBIJAKAN FISKAL ATAU KEUANGAN PUBLIK



AZHAR ALAM
Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah
Menurut Perwataatmadja dan Byarwati, (2008, 35) zakat telah menjadi sumber penerimaan  negara di zaman Rasulullah SAW dan mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya kesejahteraan umat muslim ketika itu. Bermacam-macam zakat seperti zakat atas harta dan zakat atas hasil perkebunan mulai diwajibkan pada tahun ke 8 Hijriyah.
Dasar-dasar kebijaksanaan fiskal dibuat menyangkut penentuan subjek dan objek kewjiban membawayar zakat termasuk batas minimal terkena kewajiban (zakat). Batas tersebut disebut  nisab  dan ditentukan juga umur objek yang terkena zakat (haul) dan tarifnya. Karena membayar zakat untuk umat Islam termasuk salah satu ibadah wajib, maka menghitung berapa besar zakat yang harus dibayar dapat dilakukan sendiri dengan penuh kesadaran iman dan taqwa yang memilki kemiripan dengan sistem self-assesment.
B.     Sistem Pemungutan Zakat di Indonesia
Menurut Rusli (2005, 138) terdapat kesamaan dalam prinsip dasar atau  asas pemungutan zakat dan pajak yaitu  mewajibkan dan menyerahkan sepenuhnya kepada muzakki dan wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban zakat atau pajak sesuai dengan peraturan atau hukum yang berlaku.
Undang-Undang Replubik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Bab III Pasal 21 Butir pertama disebutkan “Dalam rangka pengumpulan zakat, muzakki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya”. Dalam perpajakan sistem yang semisal tersebut diistilahkan dengan self-assesment.
C.    Faktor Pendukung Zakat sebagai Instrumen Fiskal
Sebagaimana dikutip dari Nuruddin (2005) dalam Laporan Kajian Islamic Public Finance oleh Kemenkeu, beberapa faktor yang mendukung zakat sebagai instrument fiskal adalah sebagai berkut:
Pertama.pengumpulan dan penyaluran zakat dilakukan negara dengan tujuan pengorganisasian distribusi dan cakupan masyarkaat yang lebih luaas. Potensi zakat akan dapat dicapai dan disalurkan apabila dikelola dengan sistem dan organisir yang baik seperti yang dilakukan oleh negara melalui instansi khusus seperti Baznas.
Kedua, zakat mempunyai potensi dalam membantu pencapaian sasaran pembangunan nasional. Dalam perenaan anggaran negara zakat dapat digunakan sebagai sumber pembiayaan. Namun perlu diperhatikan bahwa mekanisme teknik pengalokasian dana zakat harus jelas. Sistem keuangan Indonesia sampai saat ini masih bersifat global sehingga zakat apabila dimasukkan ke dalam APBN maka dana tersebut bisa saja didistribusikan tanpa memilah peruntukannya (memperhatikan asnaf / penerima zakat)
Ketiga, negara memiliki otoritas melalui peraturan dan perundangan dalam penghimpunan zakat sehingga penghimpunannya dapat dioptimalkan. Pemungutuan zakat dapat diahruskan oleh pemerintah karena zakat merupakan hal yang wajib bagi seorang muslim dan mencapai nisab. Namun perlu dibahas bahwa fakta zakat di Indonesia terpisah dari sistem negra dan menjadi urusan masing-masing individu. Memasukkan zakat dalam sistem negara dapat menimbulkan pro – kontra, karena zakat selama ini diperuntukkan bagi umat Islam.

D.    Peran Yang Telah Dilakukan Pemerintah Terhadap Pengelolaan Zakat
Pemerintah Indonesia telah melakukan langkah –langkah strategis dalam mengelogla zakat. meski belum sepenuhnya menggunakan zakat sebagai salah satu instrumen resmi fiskal
Diawali kebijakan pada tahun 1999 berupa penetapan UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, pemerintah mulai menunjukkan keseriusan untuk mengoptimalkan insterument zakat dalam mensejahterakan masyarakat. Undang-ndang terseubt selain menetapkan kewajiban pemerintah memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada muzakki (pemberi zakat), mustahiq (penerima zakat), dan amil zakat (pengelola zakat) juga mengatur hubungan antara zakat da pajak.
Peran krusial lainnya yaitu dengan mengubah Undang-Undang tentang Pajak menjadi UU Nomor 17 tahun 2000. Dalam aturan tersebut zakat diperkenankan sebagai faktor pengurang penghasilan kena pajak wajib pajak yang beragama Islam (tax deduction).
Selain itu amanademen UU Zakat Nomor 38 tahun 1999 menjadi UU Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat yang salah satu tujuannya adlaah menetapkan zakat sebgai pengurang pajak langsung (tax credit). Walaupun kemudian kebijakan tax credit masih tertunda untuk dimasukkan dalam amandemen undang-undanag zakat tersebut.
Dalam UU zakat terbaru (Nomor 23 tahun 2011) telah diatur pembentukan BAZNAS (Badan Zakat Amil Nasional) sebagai regulator tunggal pengelolaan zakat yang bertanggung jawab kepada presiden. Kondisi ini menegaskan tentang semakin pentingnya peran pemerintah dalam manajemen pengelolaan zakat secara nasional sehingga secara perlahan dapat disandingkan dengan instrument pajak.


E.     Pertimbangan  dalam Mekanisme Masuknya Zakat ke Dalam APBN
Mekanisme yang dibutuhkan dalam memasukkan zakat ke dalam APBN memerlukan beberapa pertimbangan utama, yaitu:
Pertama, status kelembagaan. Lembaga pengelolaan zakat nasional yaitu BAZNAS merupakan lembaga non-struktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri serta pembentukan BAZNAS dibiayai dari APBN.
Kedua, yaitu penjelasan mengenai sumber penerimaan yang diperoleh negara melalui zakat. Zakat sendiri merupakan instrument berbasis agama dan pemungutan zakan dilakukan oleh badan terntentu terhadpa individu atau badan hukum berbasis Islam. Persoalan yang mungkin terjadi adalah anggapan adanya diskriminasi warga muslim dan non-muslim. Dalam sudut pandang kenegaraan semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dan tidak boleh ada diskriminasi terhadap warga negara dalam memberikan kewajiban kepada negara.
Ketiga, fleksibilitas penggunaan dan  penerimaan zakat. Rumusan seberapa fleksibel dana zakat dapat digunakan sebagai sumber penerimaan dalam APBN perlu ditetapkan sehingga dana tersebut dapat dioptimalkan dalam penyelenggaraan negara.
F.     Alasan Perlunya Peran Pemerintah dalam Mengelola Zakat
      Ada beberapa alasan mengapa pemerintah (negara) perlu memiliki peran atau campur tangan dalam pengelolaan zakat. Diantaranya adalah hal berikut :
      Pertama, zakat bukanlah bentuk charity biasa atau bentuk kedermawanan sebagaimana infak, wakaf, dan hibah. Zakat hukumnya wajib sementara charity biasa datu donasi hukumny sunnah. Pemungutan zakat dapat dipaksakan berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Tawbah (9) ayat 103.
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
      Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
      Satu-satunya lembaga yang mempunyai otoritas untuk melakukan pemaksaan seperti itu dalam sistem demokrasi adalah negara lewat perangkat pemerintahan, seperti halnya pengumpulan pajak yang telah umum dilakukan.
      Kedua,  potensi zakat yang dapat dikumpulkan sangat esar sedangkan realisasi yang berhasil dikumpulkan masih sangat jauh dari  potensi tersebut. Hasil riset BAZNAS dan FEM IPB (2011) menunjukkan bahwa potensi zakat Indonesia mencapat 3,4 % dari PDB atau 217 triliun pada 2011 lalu. Potensi yang sangat besar itu akan sagant sulit dicapai dan disalurkan kalau pelaksanaannya dilakukan tanpa melalui peran negara secara optimal.
G.    Kesimpulan dan Saran Langkah Strategis
Pemerintah memiliki peran penting dalam pengelolaan zakat. Pendayagunaan serta efisiensi dana zakat menjadi tanggung jawab pemerintah selaku pemegang kekuasaan yang melayani kepentingan negara khususnya umat Islam di negara ini.
Langkah strategis menurut penuli bagi pemerintah ialah optimalisasi dari sinergi hubungan zakat dan pajak. Pemerintah perlu melakukan upaya-upaya untuk mencegah agar wajib pajak tidak menanggung beban ganda, yaitu membayar pajak dan zakat. Kemudian perlu dirancang suatu insentif agar keberadaan zakat menjadi komplemen terhadap pajak. Dengan demikian kesadaran umat atau wajib pajak membayar zakat akan menambah kesadaran mereka untuk membayar zakat.
Ada 2 manfaat apabila proses sinergi dan integrasi zakat ke dalam kebijakan fiskal pemerintah berhasil, yaitu:
Pertama, perluasan basis muzakki dan wajib pajak. Melalui koordinasi yang baik antara otoritas zakat dengan otoritas pajak, maka identifikasi wajib zakat (muzakki) dan wajib pajak akan semakin luas, sehingga diharapkan pendapatan dari pajak dan zakat akan semakin meningkat. Di Malaysia pendapatan zakat dan pajak justru semakin meningkat pasca pemberlakuan kebijakan zakat sebagai kredit pajak sehingga tidak ada trade off antara penerimaan pajak dengan zakat.
Kedua, keberadaan zakat akan sangat membantu meringankan beban APBM dalam pengentasan kemiskinan, apabila diasumsikan zakat bisa direalisasikan sebesar Rp 25 triliun maka tentunya mampu member tambahan dana bagi setiap orang miskin. Langkah selanjutnya ialah bagaimana memperkuat koordinasi progam pengentasan kemiskinan antara kementrian terkait dengan BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat. Dengan demikian tujuan negara untuk mengentaskan kemiskinan akan dapat terakselerasi dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA
Perwaatmadja, Karnaen A. dan Anis Byarwati. 2008. Jejak Rekam Ekonomi Islam. Cetakan Pertama. Cicero Publishing : Jakarta.
Rusli, Achyar. 2005. Pajak = Zakat Kajian Hermenutik Terhadap Ayat-Ayat Zakat dalam Al-Qur’an. Cetakan Pertama. Renada : Jakarta Timur.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat .
Tim Penulis. 2012. Laporan Kajian Islamic Public Finance. Kementrian Keuangan Republik Indonesia Badan Kebijakan Fiskal Pusat Kebijakan Fiskal Pusat Kebijakan Ekonomi Makro.






10 Juni 2015


TAMAK: PANGKAL SEGALA KEMUNKARAN
Mutohharun Jinan





Apa sebenarnya menjadi sumber persoalan dan petaka yang terus menghantui kehidupan di masyarakat atau suatu bangsa? Salah satu jawaban yang layak diajukan adalah sifat tamak, atau hasrat berkuasa dan nafsu posesif yang tak terkendali dalam diri manusia. Tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini sebagai sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan munkar lainnya. Korupsi, pembegalan, perampokan, penipuan, dan perilaku lacur lainnya bermuara pada ketamakan.,
Serakah atau tamak merupakan sikap yang selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri atau kelompoknya. Sudah menjadi suratan, lazimnya orang tamak selalu mengharap pemberian orang lain yang sebanyak-banyaknya, namun dia sendiri justru bersikap pelit atau bakhil. Orang yang tamak selalu merasa bahwa harta kekayaan yang dimilikinya selalu kurang dan berat untuk bersyukur kepada Allah Swt. Rakus atau tamak (al-hirshu) atau (ath-thama’u) yaitu suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain.
Rasulullah menggambarkan sikap rakus dengan sangat tandas: “Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulutnya melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Tamak merupakan tabiat pada kebanyakan manusia yang amat mencintai harta benda. Jika memiliki harta benda, maka ia takut bila kehilangan sebagian dari hartanya dan berhasrat untuk menambah lebih banyak lagi.
Ungkapan tentang bahaya sikap tamak dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah, bahwa rakusnya seseorang terhadap harta benda dan kedudukan akan merusak agamanya dan kerusakan ini lebih dahsyat dibanding kerusakan dua serigala yang sedang lapar terhadap kambing yang menyendiri. Kalimat bijak lainnya datang dari Mahatma Gandhi,  “Bumi mampu mencukupi semua kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak mampu mencukupi kerakusan seorang manusia”. Begitulah, tamak dapat menyebabkan seseorang lupa menyembah kepada-Nya, dapat berlaku kikir, memeras serta merampas hak-hak orang lain.
Secara moral Islam menganjurkan untuk mencari harta sebagai bekal hidup di dunia seolah-olah hidup ini tidak akan berakhir. Dengan kekayaan, seseorang bisa membantu orang lain, mengentaskan mereka dari kemiskinan dan ketidakberdayaan. Begitu juga  dengan kekuasaan seseorang bisa membuat aturan yang jauh lebih baik, bisa membantu masyarakat kecil yang teraniaya secara hukum. Namun harta dan kekuasaan harus dicapai dengan cara benar dan halal serta digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama. Hanya orang yang rakus sajalah yang ingin dan ingin terus menumpuk harta tanpa memikirkan nasib orang sekitarnya.
Rasulullah saw mengingatkan, “Hai manusia, berbaik-baiklah dalam mencari (nafkah), karena sesungguhnya hamba tidak mendapatkan (sesuatu), kecuali apa yang telah ditakdirkan padanya.” Tindakan yang rakus termasuk akhlak buruk terhadap Allah. Ini berarti peringatan kepada manusia, agar tidak terlalu mengejar nafkah yang seharusnya bukan  milikinya.
Ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. 
Untuk menghindari sifat tamak dapat dilakukan dengan selalu meminta pertolongan Allah supaya dijauhkan dari sifat serakah, sederhana dalam memenuhi kebutuhan hidup dan hemat dalam biaya hidup, jangan merasa cemas berlebihan terhadap kejadian di masa datang, puas terhadap apa yang dimiliki, serta meneladani orang-orang yang mulia yang mampu menjauhi sifat serakah.
Selanjutnya, agar tidak dikendalikan nafsu serakah terhadap dunia, membiasakan hidup dengan sifat wara’ (hati-hati), qanaah (merasa puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah), membeiasakan berempati terhadap kehidupan masyarakat bawah, serta pandai mensyukuri nikmat yang ada. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim/14: 7).
Mutohharun Jinan, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta





******

MARTABAT GURU

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya atau profesinya) mengajar. Pengertian leksikal ini terkesan sangat simplistik dan sederhana meski juga mengandung kebenaran. Dalam bahasa sehari-hari yang biasa disebut guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu kebajikan dan menjadi teladan orang lain dapat juga dianggap seorang guru.Bahkan guru juga dimakna secara impersonal, sebagaimana dalam ungkapan “pengalaman adalah guru terbaik”.
Begitu pentingnya guru dalam kehidupan manusia, sehingga tidak satu pun norma sosial, terlebih agama, yang tidak memuliakan kedudukan guru. Dalam setiap lapis peradaban mulai dari yang primitif sampai modern terdapat norma-norma pernghormatan pada sosok guru. Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan agar setiap orang menngangkat martabat guru.
Dalam satu riwayat dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah, malaikat, serta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada di liangnya dan ikan di lautan semuanya bershalawat atas orang yang mengajajarkan (guru) kebaikan kepada manusia (HR. Turmudzi).
Dalam Islam guru ditempatkan pada kedudukan yang tinggi. Kewajibannya mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada manusia. Rasulullah sendiri adalah seorang mahaguru, sebagaimana diabadikan dalam al-Quran. (QS. Al-Jumuah/62: 2; QS. Al-Baqarah/2: 151). “Kami telah mengutus seorang Rasul diantara kamu, yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu, serta mengajarkan kepadamu al-kitab dan hikmat, dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Tentu saja bagi seorang guru yang mengajar harus berbekal ilmu yang cukup. Tanpa ilmu ia tidak akan dapat mengajarkan apa-apa. Guru terlebih dahulu mempelajari segenap kebaikan, kebijaksanaan, dan pengetahuan yang akan diajarkan kepada orang lain. Guru yang baik adalah guru yang terus belajar dan membekali dirinya untuk disampaikan kepada orang lain (murid).
Setiap orang tentu pernah belajar kepada guru, baik formal maupun informal. Seorang ilmuwan yang bepengaruh, pemimpin yang menngatur jutaan rakyat, pasti pernah merasakan sentuhan pengajaran dari guru. Guru pertama adalah orang tua yang sejak dalam kandungan sudah mengajarkan berbagai hal tentang etiket kehidupan.
Menginjak usia anak-anak dan remaja setiap orang banyak belajar dari guru-gurunya di sekolah, ruang kursus, di masjid-masjid, dan lain-lain. Di situlah guru mengajarkan berbagai jenis pengetahuan dan keteladanan dalam berperilaku.
Namun di kemudian hari, banyak orang dewasa telah sukses meraih cita-cita justru menganggap remeh dan lupa peran para gurunya ketika masih kanak-kanak. Pada hal merekalah yang pada awalnya mengenalkan pengetahuan dan kebijakan hidup.
Alangkah hinanya orang yang tidak mengindahkan jasa-jasa guru-gurunya yang dahulu membimbingnya. Sungguh rendah warga bangsa yang tidak menejunjung tinggi martabat para guru. Gerakan “Hormati Gurumu” harus menjadi kebiasaan di setiap dan tempat dan waktu, bukan sekadar peringatan melalui upacara tahunan.
Mutohharun Jinan, mengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Email mj123@ums.ac.id.