Oleh: Dr. Muhamad Ali, S.Ag., M.Pd

Belum lama ini, dua Amal Usaha Muhammadiyah gagrag lawas di kota Surakarta memperinghati hari jadi secara beriringan. PKU Muhammadiyah merayakan hari jadi ke-92, berarti telah berdiri pada 1927. Di kota yang sama, SD Muhammadiyah 1 Ketelan merayakan hari jadi ke-85, berarti telah berdiri pada tahun 1935. Bila mengacu pada data resmi kedua amal usaha ini, maka dapat disimpulkan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pertama yang berdiri di Surakarta adalah PKU Muhammadiyah. Benarkah demikian kenyataannya?

Baik di kota kelahiran Muhammadiyah, Yogyakarta, maupun daerah-daerah lain, AUM pendidikan lebih awal didirikan dari pada Rumah Sakit. Benarkah gejala umum ini tidak berlaku di kota Surakarta? Atau, bisa jadi, terdapat kekeliruan dalam menentukan dan menetapkan tahun berdiri? Nampaknya, kemungkinan kedua yang mendekati benar, yakni ada kekeliruan dalam melacak jejak-jejak sejarah berdiri SD Muhammadiyah 1 Ketelan.

Sejarah SD Muhammadiyah 1 Ketelan

Penetapan berdiri SD Muhammadiyah 1 Ketelan pada 1935 didasarkan atas perubahan nomenklatur. Awalnya bernama Hollandse Inlandse School (HIS) Met de Qur’an Mangkunegaran kemudian pada 1935 berubah nama menjadi HIS Muhammadiyah Ketelan. Perubahan penamaan itu tidak mengubah tempat, struktur sekolah, ataupun kepemilikan.

Dengan demikian, perubahan nama ini semestinya tidak menghilangkan jejak sejarah saat menggunakan nama yang lama (baca: HIS Met de Qur’an). Sebaliknya, malah harus dibaca sebagai suatu kelanjutan yang wajar dari perkembangan suatu lembaga. Sejarah harus dibaca secara kontinu, berkelanjutan, bukan dengan kacamata diskontinuitas, terputus-putus.

Bila disetujui untuk melihat perkembangan SD Muhammadiyah 1 ketelan secara berkelanjutan. Ini artinya, kehadiran HIS Met de Qur’an merupakan tonggak awal berdiri, terus kapan kira-kira berdirinya lembaga itu. Sepertinya jalan ke arah itu juga cukup berliku, bukan hanya para pendirinya sudah tidak ada, tetapi jejak-jejak sejarah berupa dokumen juga sulit diperoleh.

Dalam Berita Tahunan Muhammadiyah Hindia Timur tahun 1927 yang dikeluarkan Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah dilaporkan bahwa di Surakarta pada 1927 baru saja membuka Hollandse Inlandse School (HIS) yang kedua (baca: SD Muhammadiyah 2 Kauman) dan membuka Poliklinik Mata (cikal bakal PKU Muhammadiyah). Dari data sejarah ini dapat diketahaui bahwa pada 1927 Muhammadiyah kota Surakarta telah membuka HIS yang kedua. Berarti HIS yang pertama telah berdiri pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi, kapan persisnya? Sayang, dalam buku tahunan itu tidak terdapat informasi secuilpun.

Amal Usaha Pertama

Meski tidak memberikan tahun berdiri secara pasti, akan tetapi informasi dalam buku Berita Tahunan Muhammadiyah Hindia Timur Cabang Surakarta tahun 1930 bisa sedikit membantu. Untuk memberi gambaran agak utuh, narasinya saya kutip secara utuh, dengan ejaan baru: “H.I.S. di Mangkunegaran. Sekolah ini bersubsidi, rumah masih menyewa. Mengeluarkan anak dari kelas 7, baru dua kali. Baru-baru ini mengeluarkan 10 anak. Mendapat gelijkgesteld 1 Agustus 1929. Penghabisan tahun ini mempunyai murid 220 anak”.

Berdasarkan narasi sejarah di atas dapat ditarik benang merah bahwa SD Muhammadiyah 1 Ketelan berdiri tahun 1920. Perhatikan, narasi berikut sekolah ini adalah HIS yang membutuhkan waktu 7 tahun untuk menamatkan studi. Pada tahun 1929 telah dua kali meluluskan murid. Simpulan tahun berdiri 1920 cukup beralasan, yaitu 1929 dikurangi 7 (tahun) dan dikurangi 2 (angkatan lulusan). Berdasarkan data sejarah ini, mestinya, AUM pertama di Surakarta adalah SD Muhammadiyah 1 Ketelan.

Catatan sejarah ini layak diperhatikan oleh para pengambil kebijakan di Muhammadiyah Surakarta. Langkah yang paling bijak adalah mencari data-data pembanding tentang sejarah berdiri SD Muhammadiyah 1 Ketelan. Setelah memperoleh data dan sumber pembanding, kemudian diperoleh data yang menguatkan bahwa tahun berdiri 1920, bukan 1935, maka diperlukan keputusan berani untuk menetapkan tahun berdiri sesuai dengan data sejarah yang otentik.

Menulis Kembali Sejarah

“Kekeliruan” dalam menetapkan tahun berdiri suatu lembaga, ataupun AUM sebaiknya tidak terulang kembali. Oleh karena itu, mulai saat ini setiap AUM harus menuliskan kembali sejarah dan perkembangan sesuai kenyataan sejarah yang ada, bukan atas dasar rekaan-rekaan semata. Sebab, sejarah adalah ilmu empirik yang ditulis berdasarkan atas peristiwa yang benar-benar terjadi, bukan merupakan hasil imaginasi.

Nampaknya kesadaran sejarah baru-baru ini tumbuh kembali di lingkungan Muhammadiyah, khususnya Surakarta. Museum Muhammadiyah yang dulu pernah ada di Gedung Balai Muhammadiyah Surakarta, untuk beberapa saat musnah, belakangan ini mulai dibenahi kembali. Tetapi ini jelas bukan pekerjaan mudah, sebab barang-barang bersejarah yang dulu sempat tersimpan sekarang telah berserakan.

Kembali hadirnya Musium Muhammadiyah Surakarta dapat menjadi wahana berselancar ke masa lampau. Petualangan ke masa lampau seringkali memberikan inspirasi untuk menatap masa kini secara tajam, dan menembus batas cakrawala masa depan. Siapa tahu petualangan sejarah di Musium Muhammadiyah dapat membuka kembali album kenangan masa lalu dimana tanggal, bulan, dan tahun berdiri AUM dapat dicandra kembali.

*) Kaprodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta