Jumat, 19 Juni 2015

MATERI PELATIHAN MANHAJ TARJIH


Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum Islam
( Pandangan Majelis Tarjih Dan Tajdid Muhammadiyah )
Oleh: Sholahuddin Sirizar,Lc. MA

A.     Muqaddimah
Islam adalah agama yang sempurna, itu bisa difahami dari firman Allah Swt di dalam surah Al-Maidah, ayat 3 :
}... الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا ....(٣)}
Artinya:
.... pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.... ( 3 )
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, ialah apa yang diturunkan Allah di dalam al-Qur’an dan yang tersebut dalam Sunnah yang maqbulah, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan berupa petunjuk untuk kebaikan manusia di Dunia dan Akhirat.
Di dalam Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam tahun 2000, di Jakarta disebutkan bahwa sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah Al-Maqbulah.
B.      Ta’rif Al-Qur’an
Al-Qur’an secara bahasa berasal dari bahasa Arab:
قرأ – يقرأ – قراءة و قرآنا
Yang artinya : bacaan
Sesuai dengan firman Allah Swt di dalam surah Al-Qiyamah (17-18) :
{ إِنَّ عَلَيْـــنَا جَــمْعَهُ وَقُـــرْآنَهُ (١٧) فَــــإِذَا قَـــرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨) }
Artinya:
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya ( 17 ) Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu ( 18 ).
Para Ushuliyyun ( Ulama ahli Ushul Fiqh ), telah berusaha untuk bisa menjelaskan tentang pengertian Al-Qur’an secara istilah, dan bersungguh-sungguh dalam memberikan ta’rif Al-Qur’an secara “ Jami’ mani’ ”. Kalau kita kumpulkan dan simpulkan , kurang lebih seperti berikut ini:
كَلاَمُ اللهِ المُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِاللَّفْظِ الْعَرَبِىِّ , الْمَنْقُوْلُ إِلَيْنَا بِالتَّوَاتُرِ , الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ , الْمُتَعَبُّدُ بِتِلاَوَتِهِ , الْمُتَحَدّى بِأَقْصَرِ سُوْرَةٍ مِنْهُ , الْمَبْدُوْءُ بِسُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ , الْمَخْتُوْمُ بِسُوْرِةِ النَّاسِ .

C.      Al-Qur’an sebagai sumber hukum
Di dalam Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam tahun 2000, bab 2 disebutkan :
1.      Dasar mutlak dalam penetapan hukum Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadits asy-Syarif.
2.      Bilamana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tak bersangkutan dengan ibadah mahdah pada hal untuk alasannya tidak terdapat nash yang sharih di dalam al- Qur’an atau Sunnah shahihah, maka jalan untuk mengetahui hukumnya adalah melalui ijtihad dan istinbat dari nash-nash yang ada berdasarkan persamaan ‘illat sebagai mana telah dilakukan oleh ulama salaf dan khalaf. [nomor 2 diambil dari HPT, hal. 278].

D.     Dalil bahwa Al-Qur’an adalah sumber hukum dalam Islam
1.       Ayat yang menyebutkan agar dalam berhukum dalam agama Islam berdasarkan kepada Al-Qur’an adalah:
a.       ( surah Al-An’am: 57 )
{ قُلْ إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ (٥٧) }
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik".



b.      ( Surah An-Nisaa’: 105 )
{ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥) }
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,
Sababunnuzul:
Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia Menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi, Kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi sendiri Hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

2.       Adanya hadits yang dijadikan dasar penetapan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam, diantaranya adalah:
عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : القرآن شافع مشفع وما حل مصدق من جعله أمامه قاده إلى الجنة ومن جعله خلفه ساقه إلى النار  . ( رواه الطبرانى وابن حبان )
Artinya:
Diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud, beliau berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda: Al-Qur’an itu penolong dan yang diterima pertolongannya dan pembela yang dibenarkan, siapa saja yang menjadikannya didepannya, ia menuntunnya menuju surga, dan siapa saja menjadikannya dibelakangnya, ia menghalaunya menuju neraka
( H.R. Ath-Thabrani dan Ibn Hibban )
3.       Ayat dan hadits yang menyebutkan kewajiban kita untuk menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber hukum Islam, diantaranya adalah:
a.       Surah Al-Anfal: 20
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (٢٠) }
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),
b.      Surah Muhammad: 33
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (٣٣) }
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.
c.       Surah Al-Anfal: 1
{ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأنْفَالِ قُلِ الأنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١) }
Artinya:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul[1], oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman."
[1] Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.
d.      H.R. Al-Hakim
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي ( رواه الحاكم )
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kaliandua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat setelah( berpegang kepada) keduanya, yaitu kitab Allah ( Al-Qur’an ) dan sunnahku ( Al-Hadits ).

E.      Karakteristik Al-Qur’an:
1.       Al-Quran adalah Kitab Ilahi
Al-Quran berasal dari Allah SWT, baik secara lafal maupun makna. Diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasul dan Nabi-Nya; Muhammad saw melalui 'wahyu al-jaliy' wahyu yang jelas. Yaitu dengan turunnya malaikat utusan Allah, Jibril a.s untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW yang manusia, bukan melalui jalan wahyu yang lain ; seperti ilham, pemberian inspirasi dalam jiwa, mimpi yang benar atau cara lainnya.
Allah Swt berfirman di dalam surah Huud: 1
{ الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ }
Artinya :
 Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu ( Huud 1)
2.       Al-Quran adalah Kitab Suci yang terpelihara
Diantara karakteristik Al-Quran yang lainnya adalah ia merupakan kitab suci yang terpelihara keasliannya. Dan Allah SWT sendiri yang menjamin pemeliharaannya, serta tidak membebankan hal itu pada seorang pun. Tidak seperti yang dilakukan pada kitab-kitab suci selainnya, yang hanya dipelihara oleh umat yang menerimanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah 44 :
{ .... بِمَــــــا اسْــــــتُحْــــــــفِظُــوا مِنْ كِتَــــــابِ اللَّهِ ....}.
Artinya:
…. disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah …  
Adapun makna dipeliharanya al-Quran adalah Allah SWT memeliharanya dari pemalsuan dan perubahaan terhadap teks-teksnya, seperti yang terjadi terhadap kitab Zabur, Taurat dan Injil.
3.       Al-Quran adalah Kitab suci yang menjadi Mukjizat
Diantara karakteristik Al-Quran adalah kemukjizatannya. Ia adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga bangsa arab hanya menyebut-nyebut mukjizat itu saja, tidak yang lainnya, meskipun dari beliau terjadi mukjizat yang lain yang tidak terhitung jumlahnya.
4.       Al-Quran adalah Kitab Suci yang menjadi Penjelas dan dimudahkan Pemahamannya
Al-Quran adalah kitab yang memberi penjelasan dan mudah dipahami. Tidak seperti kitab filsafat, yang cenderung untuk menggunakan simbol-simbol dan penjelasan yang sulit, tidak pula seperti kitab sastra yang menggunakan perlambang-perlambang, yang berlebihan dalam menyembunyikan substansi, sehingga sulit dipahami akal.
Allah SWT menurunkan Al-Quran agar makna-maknanya dapat ditangkap, hukum-hukumnya dapat dimengerti, rahasia-rahasianya dapat dipahami, serta ayat-ayatnya dapat ditadabburi. Oleh karena itu Allah SWT menurunkan Al-Quran dengan jelas dan memberi penjelasan, tidak samar dan sulit dipahami. Sebagaimana firman Allah SWT :
{ وَلَقَـــــدْ يَسَّـــرْنَا الْقُـــــرْآَنَ لِلــــــذِّكْـــرِ فَهَـــــلْ مِنْ مُدَّكِـــــرٍ }.
Artinya :
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qomar 17)
5.       Al-Quran adalah Kitab Suci yang Lengkap
Al-Quran adalah kitab agama yang menyeluruh, pokok agama dan ruh wujud islam. Darinya disimpulkan konsep akidah Islam, tatacara ibadah, tuntutan akhlak, juga pokok-pokok legislasi dan hukum. Allah SWT berfirman di dalam surah An-Nahl 89 :
{ وَنَــزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَــابَ تِبْـــــيَانًـــا لِكُـــلِّ شَــــــيْءٍ }.
Artinya :  
Dan kami turunkan kepadamu Al -Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.
6.       Al-Qur’an adalah Kitab Suci Seluruh Zaman
Makna Al-Quran sebagai kitab keseluruhan zaman adalah ia merupakan kitab yang abadi, bukan kitab bagi suatu masa tertentu, yang kemudian habis masa berlakunya.  Maksudnya, hukum-hukum Al-Quran, perintah dan larangannya, tidak berlaku secara temporer dengan suatu kurun waktu tertentu, kemudian habis masanya.
7.       Al-Quran adalah Kitab suci bagi Seluruh Umat Manusia
Al-Quran bukanlah kitab yang hanya ditujukan pada suatu bangsa, sementara tidak kepada bangsa yang lain, tidak juga untuk hanya satu warna kulit manusia, atau suatu wilayah tertentu. Tidak juga hanya bagi kalangan yang rasional, dan tidak menyentuh mereka yang emosional dan berdasarkan intuisi. Tidak juga hanya bagi rohaniawan, sementara tidak menyentuh mereka yang materialis. Al-Quran adalah kitab bagi seluruh golongan manusia. Allah SWT berfirman di dalam surah At-Takwir 27:
{ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ }
Artinya :
Al-Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi alam semesta

F.       Asas-asas Hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an
1.     Tidak Memberatkan
Firman Allah dalam surat al-Baqarah: 185
.... يُــرِيـــــــدُ اللَّهُ بِكُــــمُ الْيُـسْـــــرَ وَلا يُــرِيــــــــدُ بِكُـــــمُ الْعُـسْــــــــــــرَ...(١٨٥)


Artinya:
…. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ….
Pada ayat lain Allah juga berfirman dalam surat al-Hajj: 78:
.... وَمَا جَعَــــــلَ عَلَيْــــــكُمْ فِي الدِّيـــــنِ مِنْ حَــــــرَجٍ ....(٧٨)
Artinya:
…. Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
2.     Islam tidak memperbanyak beban atau tuntutan.
Artinya segala sesuatu yang ditentukan di dalam al-Qur'an, juga di dalam as-Sunnah semua manusia mampu melakukannya.
3.       Ketentuan-ketentuan Islam datang secara berangsur-angsur.
Contohnya, khamr mula-mula difirmankan oleh Allah:
a.       Di dalam khamr itu ada kemanfaatannya tetapi ada juga kemafsadatannya, akan tetapi kemafsadatannya itulah yang lebih besar.
b.      orang-orang tidak diperbolehkan shalat apabila dalam keadaan mabuk,
c.       Akhirnya khamr sama sekali diharamkan.
 
G.     Dalalah ayat-ayat Al-Qur’an
1.       Qoth'iy Al Wurud :
Nash yang memiliki kepastian dalam aspek penerimaannya karena proses penyampaiannya meyakinkan dan tidak mungkin ada keterputusan atau kebohongan dari pada penyampaiannya.
Contoh :
a.    Semua ayat dalam Al-Qur’an
b.    Semua hadits mutawatir     

2.       Qoth'iy Ad Dalalah :
Nash yang memiliki makna pasti karena dikemukakan dalam bentuk lafadz bermakna tunggal dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna lain.
Contoh :
Firman Allah Swt di dalam surah An-Nur 2 :
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَـــا مِئَةَ جَلْدَةٍ ..... ( النور: 2 )
3.       Zhanniyyud-dalalah : Nash yang memiliki makna tidak pasti, karena dikemukakan dalam bentuk lafazh bermakna ganda, dan dapat ditafsirkan dengan makna lain.
Contoh :
Firman Allah Swt di dalam surah Al-Baqarah 228:
والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء .... ( البقرة: 228 )

H.     Pendekatan yang digunakan dalam memahami Al-Qur’an
Di dalam Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam tahun 2000, disebutkan bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits dilakukan secara komprehensif inrtegralistik melalui pendekatan bayani, burhani dan irfani dalam suatu hubungan yang bersifat spiral.
1.    Pendekatan Bayani
Pendekatan Bayani sudah lama dipergunakan oleh para fuqaha’, mutakallimun dan ushuliyyun. Bayani adalah pendekatan untuk:
a.       memahami dan atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam, atau dikehendaki lafazh, dengan kata lain pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zhahir dari lafazh dan ‘ibarah yang zhahir pula; dan
b.      istinbath hukum-hukum dari an-nushush ad-diniyyah dan al-Qur’an khususnya. Makna yang dikandung dalam, dikehendaki oleh, dan diekspresikan melalui teks dapat diketahui dengan mencermati hubungan antara makna dan lafzh. Hubungan antara makna dan lafzh dapat dilihat dari segi:
1)      makna wadl‘i, untuk apa makna teks itu dirumuskan, meliputi makna khashsh, ‘Amm dan musytarak;
2)      makna isti‘mali, makna apa yang digunakan oleh teks, meliputi makna haqiqah (sharihah dan mukniyah) dan makna majaz (sharih dan kinayah);
3)      darajat alwudluh, sifat dan kualitas lafzh, meliputi:
a)       muhkam,
b)      mufassar,
c)       nash,
d)       zhahir,
e)      khafi,
f)       musykil,
g)      mujmal dan
h)      mutasyabih
4)      thuruq al-dalalah, penunjukan lafzh terhadap makna, meliputi
a)      dalalah al-‘ibarah,
b)      dalalah al-isyarah,
c)       dalalah al-nash dan
d)      dalalah al-iqtidla’ (menurut Hanafiyah),
atau :
a)      dalalah al-manzhum dan
b)      dalalah al-mafhum baik :
(1)    mafhum al-muwafaqah maupun
(2)    mafhum al-mukhalafah (menurut Syafi‘iyah).
Untuk itu, pendekatan bayani mempergunakan alat bantu (instrumen) berupa ilmu-ilmu kebahasaan dan uslub-uslubnya serta asbab al-nuzul, dan istinbath atau istidlal sebagai metodenya.
2.    Pendekatan Burhani
Burhan adalah pengetahuan yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum-hukum logika. Burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio.
Pendekatan ini menjadikan realitas maupun teks dan hubungan antara keduanya sebagai sumber kajian. Realitas yang dimaksud mencakup realitas alam (kawniyyah), realitas sejarah (tarikhiyyah), realitas sosial (ijtima‘iyyah) dan realitas budaya (tsaqafiyyah).
Dalam pendekatan ini teks dan realitas (konteks) berada dalam satu wilayah yang saling mempengaruhi. Teks tidak berdiri sendiri, ia selalu terikat dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus darimana teks itu dibaca dan ditafsirkan.
3.    Pendekatan Irfani
‘Irfan mengandung beberapa pengertian antara lain; ‘ilm atau ma‘rifah; metode ilham dan kasyf yang telah dikenal jauh sebelum Islam. Ketika ‘irfan diadopsi kedalam Islam, para ahl al-‘irfan mempermudahnya menjadi: pembicaraan mengenai :
a.       al-naql dan al-tawzhif; dan
b.      upaya menyingkap wacana qur’ani dan memperluas ‘ibarahnya untuk memperbanyak makna.
Jadi pendekatan ‘irfani adalah suatu pendekatan yang dipergunakan dalam kajian pemikiran Islam oleh para mutashawwifin dan ‘Arifin untuk mengeluarkan makna bathin dari bathin lafzh dan ‘ibarah; ia juga merupakan istinbath al-ma’arif al-qalbiyyah dari al-Qur’an. Pendekatan ‘irfani adalah pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin, dzawq, qalb, wijdan, basharah dan intuisi.

I.        Penutup
Manhaj Tarjih Muhammadiyah ini bersifat toleran dan terbuka. Toleran yang berarti Muhammadiyah tidak menganggap pendapat yang berbeda dengan putusan ijtihad / pemikiran Muhammadiyah sebagai pendapat yang salah. Terbuka, berarti Muhammadiyah menerima kritik konstruktif terhadap hasil rumusan Tarjih asal argumentasinya didasarkan pada dalil yang lebih kuat dan argumentasi yang lebih akurat.