FALSAFAH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

FALSAFAH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH
Oleh: Dr. MA.Fattah Santoso, M.Ag

Fakultas Agama Islam atas permintaan FAI UMP Palembang mengadakan kuliah umum pada hari Kamis, 22 Januari 2015. Sebagai peserta adalah mahasiswa FAI UMP Palembang. Acara yang dilaksanakan di Gedung Seminar Ekonomi juga dihadiri jajaran pimpinan FAI UMS. Sebagai pembicara adalah Dr. MA. Fattah Santoso, M.Ag menyampaikan materi tentang ”Falsafah Pendidikan Muhammadiyah”. Mengawali pembicaraan narasumber menyampaikan permasalahan pokok yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia antara lain: komersialisasi pendidikan dan krisis moral. Adapun  solusi atas permasalahan tersebut, narasumber merujuk falsafah pendidikan Muhammadiyah antara lain: pertama, menanamkan pola pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan. Ini merupakan corak pendidikan Muhammadiyah dan menjadi falsafah pendidikan khas Muhammadiyah sebagaimana Keutusan Muktamar Muhammadiyah ke 46; kedua, hakekat pendidikan Muhammadiyah. Pendidikan merupakan penyiapan lingkungan yang memungkinkan seseorang tumbuh sebagai manusia yang menyadari kehadiran Allah sebagai Rabb/Tuhan pemelihara (kecerdasan spiritual) dan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) (kecerdasan intelektual), sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, peduli sesama yang menderita akibat kebodohan dan kemiskinan, menyebarluaskan kemakmuran, dan mencegah kemungkaran bagi pemuliaan kemanusiaan (kecerdasan emosional); ketiga, corak pendidikan Muhammadiyah. Diantara corak pendidikan Muhammadiyah antara lain: 1) Pendidikan yang menghidupkan dan membebaskan. 2) Pendidikan Islam modern/berkemajuan yang mengintegrasikan antara agama dan kehidupan dan antara iman dan kemajuan yang holistik. 3) Pendidikan yang bermanfaat bagi kemajuan/keunggulan peradaban dan kesejahteraan umat manusia sebagai pengabdian (ibadah) kepada Allah, wujud keyakinan tauhid. Keempat, tujuan pendidikan Muhammadiyah. Tujuan tersebut dapat dilihat dari visi dan misi pendidikan Muhammadiyah. Visi: Terbentuknya manusia pembelajar yang bertaqwa, berakhlak mulia, berkemajuan, dan unggul dalam ipteks sebagai perwujudan tajdid dakwah amar ma`ruf nahi munkar. Misi: 1) Mendidik manusia memiliki   kesadaran keTuhanan; 2) Membentuk manusia berkemajuan yang memiliki etos tajdid, berfikir cerdas, alternatif dan berwawasan luas; 3) Mengembangkan potensi manusia berjiwa mandiri, beretos kerja keras, wira usaha, kompetitif, dan jujur; 4) Membina peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup dan ketrampilan sosial, teknologi, informasi dan komunikasi; 5) Membina peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki jiwa, kemampuan menciptakan dan mengapresiasi karya seni-budaya; 6) Membentuk kader persyarikatan, ummat dan bangsa yang ikhlas, peka, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Kelima, Nilai-nilai dasar pendidikan Muhammadiyah, diantaranya: 1) Pendidikan Muhammadiyah diseleng-garakan dengan merujuk pada nilai-nilai yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. 2) Ruhul  ikhlas untuk mencari ridha Allah Swt menjadi dasar dan inspirasi dalam ikhtiar mendirikan dan menjalankan amal usaha di bidang pendidikan. 3) Menerapkan prinsip kerjasama (musyâ-rakah) dengan tetap memelihara sikap kritis. 4) Selalu memelihara dan menghidup-hidupkan prinsip pembaruan (tajdid), inovasi dalam menjalankan amal usaha di bidang pendidikan. 5) Memiliki kultur untuk memihak kepada kaum yang mengalami kesengsaraan (dhu`afâ dan mustadh`afîn) dengan melakukan proses-proses kreatif sesuai dengan tantangan dan perkembangan masyarakat. 6) Memperhatikan dan menjalankan prinsip keseimbangan dalam mengelola lembaga pendidikan antara akal sehat dan kesucian hati. Keenam, Aspek-aspek pendidikan Muhammadiyah, diantaranya: 1) Aspek Pembelajar: Pendidikan Muham-madiyah memberikan peluang untuk tumbuhnya akal sehat, hati yang suci, dan soft skill (IQ, EQ, SQ) pada diri peserta didik. 2) Aspek Pembelajaran: Pendidikan Muhammadiyah memperhatikan dimensi psikologis (lulusan yang cerdas), sosiologis (lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta pencerahan peradaban), dan ideologis (lulusan yang menjadi kader persyarikatan). 3) Aspek Pendidik: Pendidikan  Muhammadiyah memperhatikan kompetensi-kompetensi pendidik: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial, sebagaimana lazimnya, ditambah kompetensi ideologis persyarikatan. 4) Aspek Persyarikatan: Pendidikan Muhammadiyah mampu menjadi media dan instrumen bagi eksistensi dan pengembangan kegiatan sosial kemanusiaan persyarikatan Muhammadiyah, demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 5) Aspek Manajerial: Pendidikan Muhammadiyah memadukan prinsip-prinsip mana-jemen modern, seperti standarisasi, pro-fesionalisme, impersonal, reward and punishment, dengan prinsip-prinsip Islam. 6) Aspek Kurikulum: Kurikulum pendidikan Muhammadiyah dikembangkan dengan berorientasi pada tiga kebutuhan: kebu-tuhan dasar keilmuan, kebutuhan ideologi persyarikatan, dan kebutuhan pasar, dan didasarkan kepada prinsip-prinsip pencapaian kompetensi, desentralisasi, dan berkelanjutan. 7) Aspek Kemasyarakatan: Pendidikan Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk melakukan rekonstruksi sosial secara bertahap, yaitu memihak kepada kelom-pok masyarakat yang miskin (mengalami kesengsaraan)—dikenal dengan sebutan dhu`afâ dan mustadh`afîn, dalam rangka menuju masyarakat baru yang dicita-cita-kan Muhammadiyah, yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pendidik-an Muhammadiyah tidak boleh hanyut dalam praktik materialisme-kapitalisme pendidikan sebagai efek globalisasi.